Minggu, 30 November 2014

Damai di dalam badai

Sebuah siaran televisi menayangkan para penumpang pesawat terbang turun dari pesawat yang dibajak. Terlihat raut wajah ketakutan, kengerian, dan syok menghiasi wajah mereka. Namun, ada seorang wanita yang menggendong seorang anak kecil yang sedang tidur tenang di tengah situasi itu. Damai sejahtera di tengah kekacauan.

Markus 4:35-41 berkata: Yesus tidur pulas di buritan di sebuah tilam, ketika taufan mengamuk sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Murid-muridNya adalah nelayan profesional yang sehari-hari berada di lautan tapi saat itu mereka mengalami ketakutan yang luarbiasa, setelah berjuang dengan kekuatan sendiri mereka mulai menyadari ada Yesus di dalam perahu itu, dan membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Andalkan Yesus, saat perahu kehidupan kita mengalami badai dan taufan, Yesus sanggup memberi kelegaan dan damai sejahtera.

Sabtu, 29 November 2014

Campur TanganNya

Terlalu banyak jika kita menceritakan tentang campur tangan Tuhan yang ajaib. Salah satu contohnya adalah yang dialami Charles Goodyear. Ia alami 'kebetulan' ajaib saat proses pengolahan karet mentah. Setelah berpuluh tahun gagal menemukan formula untuk mengubah getah karet mentah menjadi bahan yang kuat untuk digunakan sebagai Ban kendaraan, secara tak sengaja ia menjatuhkan bahan belerang kedalam formula pengujian. Ternyata ini justru mengubah karakter formula itu menjadi karakter yang sesuai dengan yang dibutuhkannya. Inilah campur tanganNYA yang ajaib, hingga kita dapat merasakan manfaat Ban hari ini.
Firman Tuhan katakan :" Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.."
(Rom.8:28)
Saya yakin, bahwa dalam setiap kehidupan pribadi kitapun penuh dengan campur tanganNYA yang ajaib. Bukan karena kita mampu, tapi karena Tuhan yang menolong. Syukur pada Tuhan. (GE)

Jumat, 28 November 2014

Mendambakan Peneguhan

"Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatinya" (Ulangan 3:28)

Dalam Ulangan 3 kita membaca bahwa Musa memberikan dukungan kepada Yosua ketika ia hendak menjalankan tugas sebagai pemimpin bangsa Israel. Tak diragukan lagi, Yosua dihinggapi perasaan takut dan tidak layak untuk menggantikan kepemimpinan Musa. Oleh sebab itu, Tuhan meminta Musa untuk meneguhkan Yosua.
Dari waktu ke waktu, kita semua membutuhkan perkataan yang meneguhkan agar dapat maju terus saat menghadapi tantangan baru yang besar. Selain itu, kita juga membutuhkan kata-kata penghargaan dan pujian saat melaksanakan tanggung jawab kita sehari-hari, baik di rumah maupun di kantor.
Ketika seorang akuntan perusahaan bunuh diri, dilakukanlah upaya untuk mengetahui alasan perbuatannya ini. Catatan keuangan perusahaan diperiksa, namun tidak ditemukan adanya kecurangan. Tak satu penemuan pun dapat mengungkapkan alasan tindakan bunuh diri tersebut, sampai akhirnya ditemukan sebuah catatan kecil. Isi catatan itu begitu singkat: "Selama 30 tahun aku hidup, aku tak pernah mendapatkan satu kata peneguhan pun. Aku menyerah!"
Banyak orang sangat membutuhkan pujian, sekecil apa pun. Mereka membutuhkan kata-kata pengakuan, senyuman penuh perhatian, jabat tangan yang hangat, dan ungkapan penghargaan yang jujur atas semua hal baik pada diri maupun pekerjaan mereka.
Sebab itu, marilah kita bertekad untuk setiap hari memberikan peneguhan (bukan menjilat), setidaknya kepada satu orang. Marilah kita melakukan bagian kita untuk menolong orang-orang di sekeliling kita yang mendambakan kata-kata peneguhan --Richard De Haan

SEPATAH KATA PENEGUHAN DAPAT MEMBUAT PERBEDAAN BESAR
ANTARA MENYERAH ATAU TERUS BERJUANG

Kamis, 27 November 2014

Keindahan Batiniah

Masa kini, kepecayaan diri seseorang seringkali terdongkrak melalui penampilan yang ditingkatkan. Mulai dari kursus tata rias, busana, kawat gigi, bedah plastik, suntik botox, sampai implantasi alis dan bulu mata palsu.

Wuih..ga heran anak-anak perempuan bahkan ibu-ibu pun berpenampilan lebih cantik-cantik sekarang. Setuju ?
Tapi seiring pula dengan kemajuan jaman ini, banyak orang mengabaikan daya tarik batiniah.
Firman Tuhan berkata : "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah,... Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.." (1Pet.3:3,4).
Saudara, sepertinya jika kita melengkapi daya tarik lahirah kita dengan keindahan batiniah, adalah yang sempurna.
Keindahan batin berupa integritas, kasih, kesabran, kebaikan, komitmen, dan kerendahan hati, menjadikan ia menarik dan menyukakan Tuhan dan semua orang. (GE)

Rabu, 26 November 2014

Allah tidak membedakan orang

Kerusuhan Rasisme yang terjadi saat ini di AS, negara yang dianggap paling modern, demokratis dan menjunjung Hak Azasi Manusia. Ini menunjukan soal Rasisme masih menjadi isue rawan hingga kini.

Pada zaman Rasul-rasul, adat Yahudi mengembangkan Rasisme dari pemahaman Alkitab yang keliru. Kutipan perkataan Rasul Petrus : " ..Kamu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka" (Kis.10:28).
Allah tidak pernah bermaksud demikian. Pembedaan Bangsa dlm Perjanjian Lama adalah dalam konteks penyembah Allah atau penyembahan berhala.
Petrus diutus Tuhan untuk datang ke rumah Kornelius, seorg Romawi, untuk mengajarnya juga orang-orang yang lain disana, dan membaptiskan mereka. Ini bukti tidak ada Rasisme dalam Tuhan. Petrus akhirnya berangkat :" Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang." (Kis.10:34).
Mari waspadai dengan jujur, jangan sampai ternyata kitapun masih menganut Rasisme, tanpa kita sadari. Hati-hati! (GE)

Selasa, 25 November 2014

Pantang menyerah

Ingat sereal gandum Havermuth, maka ingat juga Quacker Oat Company, perusahaan raksasa yang memproduksinya.

Ini dimulai dari anak muda sakit-sakitan, Henry Crowell yang menderita TBC akut turunan, yang berkomitmen untuk jadi 'Orangnya Tuhan'.
IA setia mendukung pekerjaanTuhan.
Semakin tekun ia memberi waktu dan dukungan bagi pekerjaan Tuhan, semakin juga ia diberkati.
Beberapa Tahun kemudiaan ia sudah mempunyai usaha pengolahan gandum sendiri, yang terus berkembang menjadi perusahaan raksasa sampai hari ini.
Sekarang ia tidak lagi memberikan 10% penghasilannya untuk pekerjaan Tuhan, tapi ia yang hidup hidup sukses dengan 10% saja. Ia persembahkan 90% bagi pekerjaan Tuhan ! (dan ia sembuh juga).
Prinsip baginya adalah : Tidak mengurangi waktu untuk Tuhan dan tidak menyerah pada kesibukan.
Firman Tuhan katakan: "Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuanmu dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1Kor.15:58).  (GE)

Senin, 24 November 2014

Sungai di gurun

"Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku" (Mazmur 23:4)
Barangkali banyak orang kristiani sudah mengetahui kisah di balik penulisan lagu It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Lagu itu menggambarkan iman yang luar biasa dari sang penulis, Horatio G. Spafford. Ia bangkit untuk menuliskan lagu ini di tengah rasa duka yang mendalam, yakni saat ia harus kehilangan empat anaknya yang tenggelam di Samudra Atlantik. Ya, di tengah permasalahannya yang besar Spafford tetap dapat melihat penyertaan Tuhan di dalam hidupnya, sehingga berulang kali ia mengatakan, "Nyamanlah jiwaku, nyamanlah jiwaku."
Yakub adalah sosok yang harus mengalami banyak rasa duka pada masa tuanya. Setelah anak kesayangannya, Yusuf, dikabarkan mati, kini ia harus bersiap-siap kehilangan anak bungsunya, Benyamin. Ia tahu bahwa hal itu sangat sulit bagi dirinya, bahkan ia pun menyebut apa yang dialaminya sebagai malapetaka. Namun, di tengah segala rasa duka yang berat di hatinya, Yakub masih mengingat dan tetap berharap bahwa Allah yang Mahakuasa tetap menyertai dirinya dan juga anak-anaknya.
Di tengah susah dan beratnya hidup ini, kita perlu tetap belajar menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kemahakuasaan-Nya akan tetap menyertai anak-anak-Nya. Inilah hal yang mesti selalu kita ingat dan syukuri. Memang kita kerap "tidak melihat" tangan Tuhan beserta kita, tetapi bukan berarti Tuhan tidak beserta kita. Barangkali Tuhan membiarkan kita hanya melihat padang gurun yang gersang, tetapi sesungguhnya Dia telah menyiapkan sungai di depan kita.
DI TENGAH KESULITAN APA PUN
INGATLAH AKAN PENYERTAAN TUHAN.

Minggu, 23 November 2014

Hati Laut

"Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti- nantikan sepanjang hari" (Mazmur 25:5)

Benda apakah yang mampu mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya tiba di pantai dan tumbuh? Menurut artikel National Geographics di majalah World, benda yang luar biasa itu adalah kacang yang berasal dari Amerika Selatan dan India Barat. Orang-orang menyebut benda tersebut “hati laut”.
Biji kacang berwarna yang berukuran 0,8 cm ini berbentuk hati. Ia tahan terhadap segala macam cuaca, dan tumbuh pada tanaman merambat yang tinggi. Biji-biji itu sering jatuh ke sungai dan terapung menuju lautan. Biji-biji itu telah mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai di pantai dan tumbuh menjadi tanaman.
Biji yang kuat, mampu bertahan, dan dapat menguasai arus ini menggambarkan prinsip dasar rohani. Mungkin dibutuhkan penantian panjang untuk mendapatkan pemenuhan rencana Allah bagi kita. Kenyataannya, Nuh harus tahan dicemooh selama 120 tahun sewaktu membangun sebuah kapal untuk menghadapi banjir besar. Abraham menanti pemenuhan janji Allah bahwa ia akan dikaruniai anak pada usia tuanya. Daud, orang yang diurapi Allah, memilih untuk menunggu waktu Allah daripada membunuh Raja Saul yang iri hati.
“Hati laut” tidak dapat memilih untuk bersabar, tetapi kita dapat. Tidak ada yang lebih sulit dan lebih baik bagi kita selain mengikuti teladan Daud yang menulis Mazmur 25. Dengan menanti Tuhan, kita akan memperoleh kedamaian, dan iman kita akan dapat bertumbuh, terlebih saat kita telah sampai di tepi.
ALLAH MENGUJI KESABARAN KITA
UNTUK MEMPERBESAR IMAN KITA

Sabtu, 22 November 2014

Jejak Kaki

Suatu malam aku bermimpi, berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama Tuhanku... Melintas di langit gelap babak-babak hidupku...

Pada setiap babak, aku melihat dua pasang jejak kaki, yang sepasang milikku... dan yang lain milik Tuhanku...

Ketika babak terakhir terkilas dihadapanku, aku menengok jejak-jejak kaki diatas pasir, dan betapa terkejutnya diriku... Kulihat bahwa acapkali disepanjang hidupku, hanya ada sepasang kaki...

Aku sadar bahwa ini terjadi justru saat hidupku berada pada saat yang paling menyedihkan. Hal ini selalu menggangguku dan aku pun bertanya kepada Tuhan tentang dilemaku ini...

"...Tuhan, ketika aku mengambil keputusan untuk mengikuti-Mu, Engkau berjanji akan selalu berjalan dan bercakap-cakap denganku disepanjang jalan hidupku...

Namum ternyata dalam masa yang paling sulit dalam hidupku, hanya ada sepasang jejak kaki... Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa ketika aku sangat membutuhkanMu, Engkau meninggalkan aku..."

Ia menjawab dengan lembut,

"... Anak-Ku, Aku sangat mengasihimu dan tidak akan pernah membiarkanmu terutama sekali ketika pencobaan dan ujian datang. Apabila engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki, itu karena engkau berada dalam gendongan-Ku..."

"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Ibr 13:5b

Jumat, 21 November 2014

Menyukakan HatiNya

Diwaktu masa kecil, kita biasa ditanya tentang cita-cita kita saat dewasa nanti.
Walau cita-cita tidak selalu tercapai, tapi dapat menjadi  dorongan saat itu, dan tujuan sementara kemana arah kita mengejarnya.
Rasul Paulus mempunyai prinsip utama dalamm hidupnya. ".. Tetapi ini yang kulakukan : aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari2 kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Fil.3:13,14)
Hidup Paulus digerakkan oleh tujuan hidupnya untuk menyukakan Tuhan, yakni untuk melakukan kehendak Allah.
Apa yang menjadi tujuan kita, apakah sekedar  meraih kesuksesan diri saja? Atau dalam kesuksesan itu kita sedangmenyukakan hatiNYA, dan sedang mensukseskan sesuatu yg menjadi rencana Allah sendiri.
Mari kita membiasakan lagi dengan 'cita-cita', dan kita isi cita-cita hidup ini dengan kerinduan menyenangkan NYA .